Tampilkan postingan dengan label kasus bakamla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus bakamla. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

Fayakhun Andriadi : Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Wartawan

Beberapa tahun yang lalu, Fayakhun Andriadi, mendesak kepolisian agar menindak tegas anggotanya yang terlibat atau menjadi pelaku kekerasan atas wartawan di beberapa daerah.
Fayakhun Andriadi mengatakan itu kepada ANTARA di Jakarta, Kamis, menanggapi aksi kekerasan dua hari beruntun di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) dan di Jayapura, Papua yang diduga melibatkan aparat kepolisian.

“Dua kasus itu harus diusut tuntas. Sebab, atas nama apa pun, tak boleh ada kekerasan terhadap para jurnalis yang tengah menjalankan profesinya. Ini bertentangan dengan komitmen nasional dalam hal penegakan kebebasan pers,” kata Fayakhun Andriadi.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat (Sulbar), menyesalkan aksi anarkis yang dilakukan oknum polisi.
Korbannya diketahui seorang wartawan `Koran Publik`, bernama Awaluddin DP.
Dia dipukul saat sedang meliput balap motor di depan Kantor Gubernur Sulbar di Mamuju, Rabu (2/3).

Kekerasan yang dilakukan oknum polisi BM, personel Samapta Polres Mamuju, ini mengakibatkan korban mengalami luka memar di tangan, lalu telepon genggam dan kartu persnya rusak.
fayakhun andriadi Korban sendiri mengaku dipukul menggunakan rotan, panjangnya setengah meter, yang kemudian ditangkisnya dengan tangan, sehingga mengenai telepon genggam serta kartu pers.
Sementara itu dari Jayapura dilaporkan, terjadi pula penikaman terhadap wartawan bernama Banjir Ambarita di sekitar Kantor Distrik Jayapura Selatan, Kamis (3/3) pagi.
Kini korban dirawat intensif di sebuah rumah sakit di sana, karena menderita luka-luka serius.
Si wartawan beberapa hari terakhir dilaporkan sering membuat berita tentang kasus oral seks dan pelecehan seksual oleh oknum Polri di Lembaga Pemayarakatan di sana.

Stop Kekerasan

Fayakhun Andriadi menegaskan, perilaku kekerasan terhadap para wartawan dan pekerja pers umumnya merupakan pelanggaran berat.
“Karena menyangkut dengan upaya membatasi kebebasan seseorang berprofesi, apalagi terkait dengan tugas jurnalistiknya yang berkaitan dengan upaya pengumpulan dan penyebaran informasi bagi publik, yang dijamin oleh undang-undang,” kata Fayakhun Andriadi
Fayakhun Andriadi sangat menyesalkan aksi anarkis yang dilakukan oknum polisi di Sulbar, juga penganiayaan cukup sadis kepada wartawan di Papua.

Fayakhun Andriadi : Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Wartawan


“Apalagi jika terbukti oknum Polri terlibat aksi kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistiknya. Ini sangat tidak bisa dibenarkan,” ujar Fayakhun Andriadi.

Aksi anarkis apalagi dilakukan oleh oknum polisi terhadap jurnalis saat bekerja di lapangan, katanya, merupakan bentuk kriminalisasi terhadap pers.

Senin, 15 Mei 2017

Fayakhun Bakamla Jelaskan Sejarah May Day dari McGuire


Menurut Fayakhun Bakamla Tahun 1881, McGuire pindah ke Missouri dan mulai mengorganisir para tukang kayu. Hasilnya, di Chicago berdiri persatuan tukang kayu dengan McGuire sebagai sekretaris umumnya. Inilah cikal bakal serikat pekerja. “Ide membentuk serikat pekerja ini kemudian menyebar dengan cepat ke seantero AS. Serikat-serikat pekerja lain didirikan di berbagai kota,” ujar Fayakhun Bakamla.
Fayakhun Bakamla  menjelaskanTanggal 5 September 1882, digelarlah parade Hari Buruh pertama di kota New York dengan 20 ribu peserta. Mereka membawa spanduk yang berisi tuntutan mereka: 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi. “Itulah 24 jam kehidupan ideal dalam sehari yang diinginkan kelas pekerja Amerika Serikat,” ungkap Fayakhun Bakamla.

Menurut Fayakhun Bakamla tuntutan pengurangan jam kerja itu pada akhirnya menjadi perjuangan kelas pekerja dunia. Kongres internasional pertama mereka dilangsungkan di Jenewa, Swiss, pada tahun 1886, dan dihadiri organisasi pekerja dari berbagai negara. “Kongres buruh internasional ini menetapkan tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari sebagai perjuangan resmi buruh sedunia,” ujar Fayakhun Bakamla.

Tanggal 1 Mei ditetapkan menjadi hari perjuangan kelas pekerja sedunia. Satu Mei dipilih karena mereka terinspirasi kesuksesan aksi buruh di Kanada pada tahun 1872. “Ketika itu buruh Kanada menuntut 8 jam kerja seperti buruh di AS, dan mereka berhasil. Delapan jam kerja di Kanada resmi diberlakukan mulai tanggal 1 Mei 1886,” jelas Fayakhun Bakamla.
Tragedi Haymarket

Menurut Fayakhun Bakamla Kontras dengan kesuksesan rekan mereka di Kanada, buruh Amerika Serikat justru harus mengalami kenyataan pahit ditembaki oleh polisi mereka. Tanggal 1 Mei 1886, bersamaan dengan mulai berlakunya 8 jam kerja di Kanada, sekitar 400 ribu buruh di AS menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja. Aksi ini berlangsung selama empat hari sampat tanggal 4 Mei 1886.

Tak disangka bagi Fayakhun Bakamla, pada hari terakhir itu, 4 Mei 1886, polisi AS menembaki para demonstran buruh itu hingga ratusan orang tewas. Pemimpin buruh itu juga ditangkap dan dihukum mati. Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Haymarket karena terjadi di bundaran Lapangan Haymarket.

Sebagai penghormatan terhadap para martir atau buruh yang tewas dalam aksi demonstrasi itu menurut Fayakhun Bakamla Kongres Sosialis Dunia yang digelar di Paris pada Juli 1889 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia (May Day). Hal ini memperkuat keputusan Kongres Buruh Internasional yang berlangsung di Jenewa tahun 1886.


Minggu, 07 Mei 2017

fayakhun bakamla dan karangan bunga ahok

carita ulang fayakhun bakmala Jum'at (28/4) saya dihubungi TVOne untuk menjadi narasumber Talk Show Apa Kabar Indonesia Pagi. Ini bukan pertama media mengundang saya menjadi narasumber. Tiap kali diundang, selalu bisa saya tolak. Mengapa? Karena saya selalu ingat nasehat guru/dosen saya di UGM, Prof. Heru Nugroho tentang pengkhianatan intelektual sambil mengutip Benda (2007).

fayakhun bakamla dan karangan bunga ahok


Dengan memenuhi undangan di media, para peneliti atau dosen dinilai lebih mengutamakan nilai pragmatis daripada nilai ilmu pengetahuan. Gejala ini dinilai Prof. Heru sebagai intellectual of the spectacle (intelektual pamer). Akibatnya, akademisi dan intelektual tadi terbius oleh hasrat ingin tampil. Tampil di Televisi menjadi candu. Ini kisah tentang terbenamnya keberadaan (being) ke dalam kepemilikan (having) dan kepemilikan dalam penampilan (appearing).
Karena itu sebelum memutuskan menerima atau tidak undangan itu, saya bertanya, "Mengapa memilih saya menjadi narasumber?". Kru TVOne menjawab, "Karena tulisan saya tentang 'Pesta Kembang dan Lemper Ayam' yang viral". Mungkin tulisan yang dimaksud ini:
https://mediaharapan.com/pesta-kembang-dan-lemper-ayam/

Ini poin masuk yang bagus, saya merasa dilibatkan karena gagasan atau pemikiran yang saya usung. Apalagi materinya kemudian dikaitkan dengan perang di media sosial. Suatu isu yang dua tahun ini lagi serius saya jadikan objek penelitian saya. Dengan pertimbangan itu, dalam hati saya mbatin, "Prof. Heru, maafkan saya. Karena ini panggilan ilmu pengetahuan, saya penuhi undangan stasiun TV untuk hadir". kata fayakhun bakamla

Namun dibalik itu sebenarnya ada kecemasan yang nyaris melampaui batas hilangnya akal sehat saya. Tubuh sosial kita remuk karena akal sehat sosial kita seperti kerupuk. Kerupuk jika dikunyah berisik, namun jika dibiarkan gampang masuk angin. Publik bahkan kaum terdidik suka berisik untuk hal yang tidak menarik dan sering masuk angin karena sedikit hawa dingin.
Kena angin sejuta KTP, kena angin sejuta sembako atau yang terbaru kena angin sejuta kembang, langsung masuk angin. Publik menjadi pendiam, bukan takut tapi pendiam. Terdiam karena tercengang, ini yang saya sebut sebagai Woowwww Effect. Semua dibuat masif, mendadak, tiba-tiba dan Wooowwww.... Sehingga tidak ada jeda untuk sekedar memeriksa, bagaimana konstruksi realitas itu terbentuk?

Pada bagian lain inilah yang saya sebut sebagai kampanye impresif. Model ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi kampanye persuasif. Melibatkan massa sebanyak-banyaknya, kemudian disebar seluas-luasnya untuk mendapat simpati setinggi-tingginya. Itu semua untuk persiapan meraih hal yang sebesar-besarnya.

karangan bunga untuk ahok


Kampanye bergeser dari ruang politik ke ruang budaya populer. Kampanye tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu, kapan saja dimana saja selalu Coca col... eh.. kapan saja dan dimana saja, kalah atau menang, adalah medan kampanye. Kampanye dalam ruang budaya bukan lagi mempersuasi (merayu) khalayak, atau adu visi, gagasan dan program. Kampanye adalah aksi mensublimasi, yaitu usaha untuk menggeser atau mengganti kecenderungan sosial yang ada karena dorongan halus untuk selalu menjadi sublim, yang utama atau yang paling. Seperti yang paling besar, yang paling berani, yang paling militan, yang paling banyak, yang paling lama, dsb.

Hal ini akan terus terjadi dan diproduksi hingga tujuan tercapai atau relasi kuasa dibalik itu dapat dipertahankan. Ini yang kemudian saya jadikan argumen menjadi ancaman bagi terwujudnya demokrasi yang sehat. Demokrasi bukan lagi soal substansial atau prosedural, tapi menjadi persoalan kultural.

menurut fayakhun bakamla, Praktek sublimasi ini langsung atau tidak akan menekan ruang batin publik. Mereka jadi takut berbeda karena praktek kampanye impresif tadi. Dan dalam demokrasi, ini bukan kondisi sakit atau kronis, tapi tidak sehat. Sebab suatu yang tidak sehat belum tentu sakit. Publik menjadi pendiam karena kampanye impresif, itu tidak sehat bagi demokrasi.
Kesadaran ini yang mendasari saya hadir memenuhi undangan TVOne. Kita berbeda itu biasa, tapi publik harus tetap dicerahkan dengan berbagai pandangan alternatif agar mereka kaya perspektif melihat kehidupan sekitarnya...

Rabu, 03 Mei 2017

Kisah Fayakhun Bakamla Sukses Berbisnis

Kisah FayakhunBakamla anak nakal yang sukses jadi pengusaha dengan keuntungan mumpuni
Kisah Fayakhun Bakamla Sukses Berbisnis
Kisah Fayakhun Bakamla Sukses Berbisnis

Nama FayakhunBakamla atau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Fayakhun adalah sosok yang terbilang cukup popular di kalangan pebisnis Indonesia.  Fayakhun Bakamla yang pada tanggal 27 April kemarin genap berusia 32 tahun tersebut merupakan salah satu contoh pengusaha yang telah berhasil mencapai kesuksesan di bidang bisnis pada usia relatif muda. Saat ini Fayakhun Bakamla memiliki beberapa perusahaan di antaranya: distributor untuk produk hi-tech industry, supplier dan retail di bidang food and beverage, agen oli di Jakarta, hingga sederet bisnis lainnya.
Kesuksesan yang diraih oleh Fayakhun Bakamla ini tentu tidak diraih dengan cara yang mudah. Fayakhun Bakamla pernah mengalami sakitnya bangkrut saat baru mendirikan usaha selama 3 bulan. Bahkan saat berada di situasi terbatas itu, Fayakhun Bakamla sempat hanya sanggup makan dengan satu buah telur setiap harinya. Akan tetapi meski terus dihantam kesulitan, Fayakhun Bakamla terus berusaha hingga pada akhirnya berhasil mengecap keberhasilan. Dalam tulisan kali ini, akan menyajikan cerita tentang Fayakhun Bakamla dalam merintis dunia bisnisnya hingga bisa berhasil seperti sekarang ini:
Jika kita menilisik kembali kisah Fayakhun Bakamla ke belakang, sesungguhnya cerita tentang orang sukses yang bermasalah di sekolah pun dialami oleh pria berkacamata ini. Fayakhun Bakamla semasa sekolah dulu bukanlah anak pintar manis kesayangan guru. Sebaliknya, Fayakhun Bakamla adalah anak bandel yang gemar membuat masalah di sekolah. Bahkan sangking nakalnya, salah satu guru Fayakhun Bakamla di SMP pernah menyumpahinya tidak akan jadi orang sukses seumur hidup.

Kesuksesan yang diraih oleh Fayakhun Bakamla 
Kenakalan FayakhunBakamla terus berlanjut hingga dia masuk ke STM. Di masa ini Fayakhun Bakamla bukannya makin rajin mengingat akan masuk ke perguruan tinggi, ia justru malah semakin sering bolos dari sekolah. Fayakhun Bakamla lebih senang berada di luar lingkungan sekolah daripada sekadar mendengarkan materi di kelas. Karena kenakalannya tersebut, tidak ada satu pun orang yang menyangka bahwa Fayakhun Bakamla akan menjadi orang sukses seperti saat ini.
Jiwa entrepreneur yang ada dalam jiwa Fayakhun Bakamla sudah ada sejak ia masih berusia muda. Meski ketika kuliah ia memilih jurusan Teknik Elektro, tapi sesungguhnya Fayakhun Bakamla sudah memiliki rencana tersendiri untuk menekuni dunia bisnis. Keinginan Fayakhun Bakamla tersebut mendapat dukungan dari sang ayah yang sudah mengetahui “pahitnya” hidup sebagai seorang karyawan. Bahkan orangtua Fayakhun Bakamla pernah berpesan:

Lebih baik kecil-kecil jadi bos, daripada besar tapi tetap kuli